Selasa, 26 Juli 2011

Meningkatkan Minat Belajar Bahasa Sunda, Pikiran Rakyat, 26 Juli 2011

oleh : Ajeng Kania

Kongres Bahasa Sunda (KBS) IX/2011 di Bogor menghasilkan sejumlah rekomendasi dikemas dalam ”Panggeuing Cipayung”. Intinya, upaya mengembangkan agar bahasa, sastra dan aksara Sunda tetap lestari.


Banyak bahasa daerah di Nusantara berada diambang kepunahan. Tanda-tanda itu semakin kasatmata di mana penuturnya cukup sempit, mendiami daerah tertentu dan terbatas generasi tua saja. Begitupun dialami bahasa Sunda, yang jika tanpa upaya memelihara dan pengembangan bakal bernasib serupa.



Muatan lokal (mulok) bahasa Sunda di sekolah sebagai satu-satunya mata pelajaran berkaitan erat dengan eksistensi budaya lokal (khususnya bahasa Sunda) kini mengalami gejala penurunan minat. Padahal bahasa Sunda merupakan simbol identitas budaya daerah sebagai manifestasi kebhinekaan bangsa Indonesia turut memperkaya kebudayaan nasional.

Agar diminati, menurut penulis ada beberapa ikhtiar, yakni: Pertama, menghindarkan kesan pembelajaran bahasa Sunda sulit dan rumit. Berdasarkan pengalaman penulis, materi tidak lagi didominasi teori bahasa, tetapi diimbangi praktik berbahasa. Di awal pelajaran, peserta didik diberi kesempatan menikmati berbahasa Sunda bertegur sapa dengan kawan, orang tua dan guru dengan nuansa keakraban; atau simulasi komunikasi lain seperti: memperkenalkan diri, membuka suatu kegiatan, biantara (pidato), atau riungan (diskusi) dengan tema ditetapkan.

Selanjutnya guru mengulasnya, sehingga peserta didik memahami dan mahir menerapkan kosakata sejenis sekalipun, seperti kata: mios, angkat, indit, miang; atau neda, tuang, dahar, emam, nyatu sesuai undak-usuk basa (tata krama berbahasa. Kecakapan aspek verbal tersebut semakin fasih bila dibiasakan. Sebaliknya, ketidakcakapan ini menyebabkan peserta didik cenderung menggunakan bahasa Sunda kasar.

Kedua, ada pola pemikiran bahwa mulok bahasa Sunda kurang penting ditandai minimnya alokasi waktu diberikan. Mulok bahasa Sunda di Sekolah Dasar harus berbagi waktu dengan mulok lainnya seperti: PLH, Pramuka, Pencak Silat, dan Bahasa Inggris. Menurut hemat penulis, mulok Pramuka dan Pencak Silat dapat diarahkan menjadi bidang ekstrakurikuler tersendiri.

Sementara penempatan bahasa Inggris sebagai mulok mengundang pertanyaan, karena bahasa Inggris bukanlah pelajaran bermuatan budaya setempat sebagai esensi pemaknaan muatan lokal, bukan? Reposisi ini dimaksudkan agar alokasi waktu mulok bahasa Sunda bertambah dan guru leluasa menyajikan materi lebih kreatif dan menarik.

Ketiga, evaluasi mulok bahasa Sunda cenderung bertumpu pada aspek kognitif semata. Mulok bahasa Sunda sarat ajaran dan nilai-nilai luhur dalam membentuk generasi berbudaya dan berkarakter. Aspek kesantunan dalam bertutur, menghormati lebih tua, keramahan maupun perilaku luhur sehari-hari mesti menjadi pertimbangan evaluasi. Mulok ini sangat strategis mencetak lulusan cageur, bageur, bener, pinter, wanter, dan singer sebagai upaya membangun karakter luhur bangsa.

Keempat, membangun atmosfer berbahasa Sunda. Di luar anjuran hari Rabu, berbahasa Sunda dapat menjadi komunikasi ragam bahasa informal di luar jam sekolah. Namun, guru dapat menyisipkan kosakata bahasa daerah dalam PBM untuk memberi variasi, meluweskan komunikasi, atau menjelaskan hal abstrak sulit padanannya. Bahasa Sunda dapat digunakan pengantar di kelas rendah yang mayoritas peserta didiknya menggunakannya sebagai bahasa ibu (mother-tongue) dan tentu saat PBM mulok bahasa Sunda.****

Penulis, guru kelas/bahasa Sunda
SD Negeri Cibiru 5 Kota Bandung

Selasa, 14 Desember 2010

Makna dan Pesan Moral Api Unggun, Pikiran Rakyat, 20 April 2007


Suasana rekreatif menjadi ciri khas kegiatan kepramukaan selama ini. Kegiatan kepramukaan di alam terbuka sangat relevan dengan upaya penegmbangan kecerdasan kinestesis (gerak tubuh) dan spasial (keruangan) terkait peningkatan mutu pendidikan formal.

Suasana rileks dan riang gembira merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran nilai dan sikap dalam membentuk karakter dan kepribadian siswa seutuhnya. Acara bersifat rekreatif bermanfaat dalam mengembalikan kesegaran siswa dari kepenatan aktivitas belajar sehari-hari.

Api unggun mengandung makna dan pesan moral yang luas. Acara ini memiliki aura sakral, wibawa, dan penuh rasa khidmat terkait acara pelantikan anggota baru pramuka. Kegiatan api unggun pun menjadi momen yang menyenangkan ditunggu para anggota pramuka. Sesuai tradisi, api unggun sebagai mata acara penutup kegiatan perkemahan menampilkan berbagai suguhan hiburan bersifat atraktif, kreatif dan rekreatif. Semua dengan membentuk lingkaran bisa dengan santai melepas lelah setelah mengikuti serangkaian materi.

Acara ini dikemas sebagai ajang kreasi siswa menampilkan atraksi ketangkasan, pentas seni, dan aneka kreasi lainnya. Setiap regu yang tampil berusaha memuaskan penonton dengan suguhan atraksi memikat. Sebaliknya apresiasi diberikan peserta dengan sambungan hangat disertai aplaus tepuk tangan. Tentu saja bagi yang tampil, mampu memberi spirit, kebanggaan, dan rasa percaya diri. Acara api unggun pun dapat dijadikan arena memperluas persaudaraan dan memperkokoh tali persahabatan sehingga mengeliminasi perilaku kekerasan seperti perkelahian dan tawuran antarsiswa.

Esensi acara api unggun dalam kegiatan kepramukaan bukanlah sekedar acara begadang atau hura-hura layaknya acara camping ala remaja sekarang. Di bawah kendali instruktur atau pembina pramuka, acara api unggun senantiasa mengedepankan norma dan etika. Bbeberapa pedoman pelaksanaan api unggun mengharuskan semua yang terlibat (1) menjaga ketertiban dan sopan santun; (2) menghindari ucapan kotor dan negatif; (3) tidak merusak lingkungan; (4) menciptakan kesan terbaik bagi peserta; (5) jangan lupa mematikan api dan membersihkan sampah di sekitar lokasi.

Dalam memilih lokasi kegiatan api unggun direkomendasikan dilaksanakan di tanah lapang (rata) bernuansa alam terbuka jauh dari pemukiman penduduk, dan sangat baik dilakukan di malam cerah dengan langit berbintang. Api unggun pun dirasakan manfaatnya langsung oleh peserta, seperti menghangatkan badan, menerangi kegelapan, dan dapat mengusir binatang buas.

Secara fisik, api unggun hanyalah sejumlah ranting disusun berunggun-unggun (bertumpuk) kemudian dibakar. Bentuknya bisa menyerupai piramida, segitiga, bujur sangkar atau pagoda tegak. Penataan ruang sedemikian rupa, maksudnya untuk memberi ruang bagi udara (Oksigen) agar kayu dapat terbakar sempurna. Setiap regu secara rawe-rawe lantas, malang-malang putung (bergotong royong) mengumpulkan ranting-ranting dan potongan kayu kering sebagai bahan baku membuat api unggun.

Kondisi realitas sekarang, di mana guru banyak disibukkan oleh kegiatan kurikuler dalam proses kegiatan belajar-mengajar sehingga kegiatan kepramukaan lebih banyak ditangani kakak-kakak (senior) dan Ambalan/Racana di wilayah sekitarnya. Padahal, segala perhatian tersebut bukan cuma tugas guru selaku pembina pramuka, guru lain pun diharapkan turut memberi dukungan dengan sesekali mendampingi kegiatan siswa seperti pada saat kegiatan api unggun ini.

Banyak manfaat didapat, bukan saja acara nostalgia dan romantisme terhadap kegiatan serupa tempo dulu, namun diharapkan melahirkan daya juang lebih fresh seperti ditunjukkan oleh nyala lidah api unggun berkobar-kobar. Begitu sarat makna dan pesan moral terkandung dalam acara api unggun tersebut. Begitu pun keheningan malam, beningnya bulir-bulir embun dan kerlap kerlip bintang di langit terbuka dibungkus kehangatan api unggun dapat menjadi sumber inspirasi sekaligus penyegaran dari monotonitas, kesumpekan dan kepenatan sehari-hari. ****

Penulis, guru SDN Taruna Karya 4 Kec. Cibiru, Kota Bandung

Minggu, 12 Desember 2010

Mengasah Kecerdasan Finansial Sejak Usia Dini, Pikiran Rakyat, 1 November 2008


Banyak kejadian merugikan akibat seseorang tidak bisa mengelola keuangan dengan baik. Bahkan tidak sedikit yang berakhir di jeruji besi melakukan tindak kriminal, karena tergoda mencuri, merampok atau korupsi.

Untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidaki diinginkan tersebut, seseorang perlu memiliki kecerdasan dinansial atau seni mengelola keuangan. Kecakapan mengelola keuangan bersifat pribadi tidak tumbuh begitu saja. Diperlukan latihan dan edukasi kontinyu sehingga menjadi gaya hidup (life style) seseorang.

Tidak sedikit akademisi yang semula dikenal ebsrih (clean), tatkala berkecimpung di organasasi publik banyak tersandung gara-gara keuangan.

Edukasi pengelolaan keuangan sangat penting bagi siapapun di tengah era konsumerisme. Arus globalisasi telah menggiring nafsu belanja membuat orang sukar berpikir jernih tatkala memegang uang.

Hal ini dilirik para perusahaan untuk berlomba menciptakan strategi produkdi dan pemasaran guna menggaet hati konsumen untuk menguras isi dompetnya. Bentuk iklan-iklan, rpomosi dan diskon besar-besaran seolah menghipnotis masyarakat untuk bersaing dalam gaya hidup dan konsumsi.

Budaya belanja pun mewabah ke dalam berbagai strata umur mulai balita, remaja, ibu-ibu hingga para lansia. Budaya menabung (saving) sebagai simbol kearifan, semakin tergilas oleh budaya leasing (kredit) dalam merealisasikan hasrat dan keinginannya. Celakanya budaya konsumtif tidak lagi didasari logika kebutuhan (need), tetapi lofika hasrat (desire) dan keinginan (want) serta gengsi dan kepuasaan seketika.

Oleh karena itu kecerdasan FQ (financial quotient) merupakan kecakapan mengelola keuangan secara cerdas, bijaksana dan terencana sangat penting dimiliki seseorang. Kecerdasan ini dapat diasah sejak usia dini. Anak-anak dibiasakan sejak belia merencanakan memenuhi keinginannya dengan cara mempertimbangan skala prioritas terhadapa suatu produk berdasarkan aspek kegunaan atau urgensinya (mendesak atau tidak).

Kecerdasan ini akan menjadi benteng untuk tidak hanyut dan panik saat kelebihan atau kekurangan uang sehingga senantiasa jernih dan matang ketika berperilaku. Edukasi ini pula bukan sekedar urusan angka bersifat matematik, melainkan lebih pada pembentukan watak, mental, dan pengalaman sehingga menjadi gaya hidup dan etos kerja sehari-hari.

Menurut hemat penulis, ada lima aspek utama dalam edukasi ini, yakni:
1. Pemahaman cara mendapatkan uang. Aspek ini membekali pemahaman bahwa uang diperoleh mesti dengan cara alal, bukan hasil mencuri atau merugikan orang lain.

2. Cara membelanjakan uang. Aspek ini berguna membekali anak menjadi konsumen pintar dan selektif. Anak pandai meerencanakan dan memprioritaskan kebutuhan mendesak atau bisa diganti atau ditunda sesuai dengan anggaran.

3. Cara berhemat. Aspek ini menekankan perlunya menabung di sekolah atau di bank. dengan memiliki tabungan, apa pun bentuknya, pasti akan memberi manfaat dalam menghadapi hambatan dalam rangka meraih cita-cita.

4. Menjaga amanah. Aspek ini berkenaan dengan kecerdasan spiritual, tentang moral berisi kejujuran, keeprcayaan dan transparansi.

5. Pemahaman tentang hak uang. Aspek ini bertalian dengan kecerdasan sosial anak sehingga dengan uangbisa berbagi, bersedekah atau membantu sesama umat.

Melalui pembiasaan dan disiplin sejak usia dini merupakan bekal menuntun anak agar lebih arif dalam memaknai kehirupan (**)

Penulis, Ajeng Kania
Guru SDN Taruna Karya 4, Kec. Cibiru Kota Bandung

Senin, 30 Agustus 2010

Ramadan Spirit Membangun Generasi Qurani, Pikiran Rakyat, Sabtu, 28 Agustus 2010


Oleh: Ajeng Kania


Pada bulan Ramadan, setiap umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah. Salah satunya dengan membaca ayat-ayat suci Alquran karena setiap ibadahnya umat Muslim pada bulan Ramadan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT.


Alquran satu-satunya bacaan di dunia yang tiap hurufnya memberikan pahala apabila dibaca. Rasulullah saw. bersabda, "Siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah (Alquran), ia akan mendapatkan satu kebaikan yang nilainya sama dengan 10 kali ganjaran (pahala). Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf." (H.R. Tirmidzi). Bila satu huruf dibalas dengan 10 pahala kebaikan, satu juz mendapat sekitar 105.000 pahala. Bila khatam selama bulan suci ini, kita akan mendapat 3.150.000 pahala kebaikan. Tentu saja ini balasan minimal dari Allah SWT. Dalam Alquran, disebutkan bahwa Allah SWT bakal membalas setiap amal kebaikan tanpa batas sesuai dengan kehendak-Nya.

Akan tetapi, meskipun umat Muslim di Jawa Barat mencapai 94 persen dari 41 juta populasi penduduknya, 50 persennya belum bisa membaca Alquran karena buta huruf Arab ("PR", 17/1). Yang memprihatinkan, bila buta huruf latin dialami mayoritas usia tua 50 tahun ke atas, buta huruf Alquran tersebar di semua tingkat usia, mulai usia produktif hingga lanjut usia.

Anak-anak usia sekolah dewasa ini menghadapi ujian hidup semakin berat. Fenomena globalisasi dengan perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi menyebabkan nilai-nilai akhlak tidak menjadi prioritas bagi manusia modern. Sebaliknya, sikap individualistik, pergaulan bebas, pemakaian narkotika, budaya konsumerisme, serta hedonisme merasuki berbagai lini kehidupan dan mudah diadopsi menjadi gaya hidup (life style) remaja. Pada akhirnya, menjauhkan remaja Muslim dari tata nilai yang terkandung dalam Alquran.

Padahal, Alquran dan sunah merupakan pedoman yang membuat umat Islam tidak bakal tersesat selama berpegang teguh pada keduanya. Upaya nyata membangun generasi qurani amat urgen dalam menyiapkan generasi muslim memiliki karakter dan jati diri, yakni membentuk generasi cerdas, berakhlakul karimah, teguh iman, dan membumikan Alquran serta sunah sebagai nafas dan ruh dalam berperilaku sehari-hari.


Keberhasilan membangun generasi qurani, setidaknya ditentukan oleh enam unsur. Pertama, pribadi anak sendiri. Kedua, peran orang tua menjadi kunci dalam partisipasi dan memotivasi anak. Merupakan tantangan tersendiri di mana ada kecenderungan orang tua sekarang lebih tertarik mengikutkan anaknya pada kursus-kursus, sehingga anak cukup lelah saat harus mengikuti pendalaman Alquran.


Ketiga, pihak sekolah perlu memiliki semacam kemampuan dasar minimal (KDM) pendidikan Alquran-berupa kemampuan baca tulis dan menghafal Alquran- yang mesti dicapai siswa. Keempat, peran lembaga masjid di mana siswa tinggal diharapkan sebagai ujung tombak dalam membekali pendidikan Alquran. Masjid dapat dijadikan sebagai pusat pendidikan Alquran.

Kelima, Pemilihan metode tepat dan praktis sehingga pembelajar merasa mudah dan cepat menguasai bacaan Alquran secara tartil dan bertajwid. Keenam, peran pemerintah dalam membuat kebijakan seperti menerbitkan perda wajib diniah guna menjaring siswa Muslim mendapat pendidikan Alquran melalui jalur formal, informal, dan nonformal.

Berawal kebiasaan "membaca" Alquran akan memotivasi "mengetahui artinya" dan "memahaminya", serta pada gilirannya memacu spirit "mengamalkan" ayat menjadi pengamalan nyata.***

Penulis, Guru SDN Cibiru 5 Kota Bandung.

Sabtu, 01 Mei 2010

MENGEMBANGKAN BUDAYA RISET DI KALANGAN SISWA, Pikiran Rakyat,Rabu, 12 September 2007


oleh : Ajeng Kania

JANGAN marah dulu melihat anak suka iseng mengutak-atik atau membongkar-pasang mainannya. Dari kegemaran itu, Yusmar Purwoko (14) mampu menciptakan detektor tsunami. Berkat karyanya, ia terpilih menjadi duta Indonesia di ajang “International Exhibition for Young Inventor III” di India, awal 2007 lalu.

Pada akhir Agustus 2007 lalu, bertepatan 40 Tahun LIPI di Pusat Sains Cibinong, LIPI kembali menggelar Lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna LIPI 2007. Tiga temuan siswa-siswi SMP meraih predikat juaranya. Momen ini sekaligus membukakan mata kita, betapa remaja kita memendam potensi dan bakat luar biasa turut memberikan andilnya bagi kepentingan masyarakat. Padahal, mereka berkreasi dengan barang-barang sederhana yang mudah didapat. Dengan bimbingan guru atau orang tua, daya kreatif dan imajinatif siswa mampu mengubah barang kurang memiliki nilai menjadi lebih berharga.

Azhar Wicaksana (pemenang kedua lomba tsb), siswa kelas VIII SMP 15 Yogyakarta mampu menampilkan karya “Alat Deteksi Getaran Gempa”. Ia menggunakan tiga bandul timah dengan gulungan kawat tembaga dengan ukuran kecil, sedang, dan besar. Ketika ada guncangan, bandul timah menyentuh gulungan tembaga, lalu menghubungkan arus listrik dan timbullah alarm gempa. Makin besar gempa, makin tinggi intensitas bunyi alarm. Menariknya, inspirasi itu ia dapatkan ketika seekor kucing saling berkejaran menyenggol kaleng dan menimbulkan suara.

Lain lagi dengan Rendi cs, anak MTs Negeri Subang meraih juara ketiga dengan karyanya membuat keripik dari limbah ikan etong. Mereka terinspirasi oleh fried chicken banyak dijual di tepi jalan. Kulit ikan etong yang keras dibersihkan kemudian direbus dahulu, lalu diberi bumbu dan digoreng, ternyata memiliki cita rasa renyah, dan gurih menggoda selera.

Sumber inspirasi mereka dapatkan dengan kepekaannya mencermati peristiwa sehari-hari. Dari permasalahan sederhana dalam bidang lingkungan saja, seperti sampah, limbah, sanitasi, kompos, daur ulang sampah, dsb dapat menjadi sumber inspirasi. Mengenai proses penemuan ini, Richard Suchman dalam Model Latihan Inkuiri (Inkuiri Thinking Model) menyatakan pentingnya membawa siswa pada sikap bahwa pengetahuan bersifat sementara (tentative). Dengan model ini, siswa diharapkan memiliki keterampilan dalam proses ilmiah, ditandai dengan kemampuan melakukan observasi, mengorganisasikan data, menyusun hipotesa hingga membuat kesimpulan.

Bangsa Indonesia patut bersyukur, kemampuan intelektual dan prestasi akademik siswa tak kalah dibanding siswa negara maju sekali pun. Mereka mampu berbicara di pentas olimpiade sains internasional (fisika, matematika, biologi, dsb). Terbukti setiap pentas mampu membawa pulang tradisi medalinya.

Berkaitan dengan minat dan bakat mereka tak perlu diragukan. Banyak ide-ide kreatif dan inovatif siswa dengan sedikit polesan dapat tercipta karya mengagumkan. Seyogyanya potensi yang dimiliki siswa dapat dikembangkan secara optimal sehingga kelak memiliki kecakapan hidup (life skill) yang sesuai minatnya. Teori kecerdasan berganda (multiple intellegences) yang diusung Howard Gadner dalam bukunya yang terkenal Frames of Mind memungkinkan pada diri seseorang memiliki potensi kecerdasan lebih dari satu untuk dikembangkan sehingga meraih sukses.

Guru dapat menjembatani minat riset siswa dengan mengintegrasikan ke dalam wadah ekskul di sekolah seperti: kelompok ilmiah remaja. Kegiatan riset tidak terbatas pada bidang sains saja, melainkan bidang seni, budaya, bahkan olah raga sekarang sudah berbasis riset. Dari kecintaan terhadap kegiatan riset sejak dini, dapat mencetak saintis-saintis muda produktif menghasilkan teknologi terapan (tepat guna) maupun konsep-konsep keilmuan. Tentunya pemerintah, perusahaan maupun lembaga penelitian harus merespons kebutuhan mereka sehingga kreativitas tidak mandeg terhambat minimnya dukungan dan perhatian, baik segi dana maupun sarananya.

Berkat riset para ahlinya, negara AS bukan saja memiliki ketahanan pangan kuat, namun menjadi negara industri terkemuka didukung kecanggihan teknologi. Begitu pun Jepang yang miskin sumber daya alam, kehandalan risetnya menempatkannya mampu merajai pasar otomotif dunia. Kita pun berharap, melalui kegiatan riset anak bangsa Indonesia mampu menampilkan adikarya fenomenal yang mampu mengangkat martabat dan kesejahteraan rakyatnya. Semoga! (**)


Penulis, Guru SDN Taruna Karya 04
Kecamatan Cibiru Bandung

LIBURAN KE MUSEUM, KENAPA TIDAK?, Pikiran Rakyat, Selasa, 3 Juli 2007

oleh : Ajeng Kania

“Mari kita ajak keluarga dan pelajar untuk mengunjungi museum. Museum tempat yang baik untuk mempelajari berbagai kearifan masa lalu, yang dapat menjadi inspirasi masa kini dan akan datang” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Demikian ajakan Presiden SBY saat meresmikan Gedung Arca di Museum Nasional, Jakarta (PR, 21/6). Ajakan itu didasari kenyataan bahwa dewasa ini, museum belum mampu menarik pengunjung terutama kalangan masyarakat luas. Sementara, pelajaran sejarah di sekolah yang erat kaitannya dengan lembaga museum juga mengalami penurunan minat.



Kondisi objektif pelajaran sejarah di sekolah banyak kendala. Menurut pakar sejarah, Prof. Dr. Hj. Ninna Lubis (PR, 20/2) selama ini, pelajaran sejarah masih terintegrasi pada mata pelajaran IPS dan PKn. Di sekolah menengah, pelajaran sejarah hanya didapat dua jam mata pelajaran seminggunya. Dalam kondisi ini, seringkali pelajaran sejarah terabaikan dan kurang mendapat perhatian siswa. Padahal, ilmu sejarah sangat baik untuk pembinaan mental dan pengetahuan tentang kehidupan berbangsa masa kini.

Di kalangan masyarakat, terdapat anggapan keliru bahwa lembaga ini khusus untuk pelajar atau kepentingan penelitian semata. Mungkin hal itulah, membuat masyarakat enggan (tidak ”percaya diri”) ketika memasuki pintu gedung museum. Pada akhirnya, museum hampir tak pernah menjadi daftar tujuan liburannya, apalagi menjadikannya suatu kebutuhan.

Sebenarnya, museum cukup terbuka untuk pengunjung, dan kini bisa dijadikan tujuan wisata alternatif keluarga sekaligus menimba pengetahuan tentang peradaban masa lampau. Museum bukan lagi sekedar ”gudang” benda-benda bersejarah yang terkesan kaku dan serius, melainkan wahana transformasi nilai-nilai warisan budaya bangsa antar generasi. Hal itu sangat penting dalam menjaga warisan budaya bangsa dari derasnya pengaruh negatif budaya asing.

Dengan adanya museum, pelajaran sejarah di sekolah tidak lagi bersifat abstrak atau fantasi belaka. Peninggalan berupa prasasti, arca, candi, kakawin, maupun benda masa lampau lainnya sebagai koleksi museum merefleksikan perjalanan sejarah peradaban umat manusia serta bukti tingginya karya dan kreasi bangsa kita yang sudah disegani sejak tempo dulu. Dari peninggalan benda-benda sejarah pula membuktikan bahwa di Nusantara ini pernah eksis kerajaan Sriwijaya sebagai salah satu pusat pendidikan terkenal di Asia. Juga Majapahit seperti dikisahkan Mpu Prapanca dalam kitab ”Negarakertagama” (ditulis 1365 M) menggambarkan keluhuran budaya Majapahit dengan cita rasa halus dalam seni, sastra, juga kemajuan dalam kehidupan masyarakatnya. Tak heran, Mpu Prapanca melukiskan Majapahit sebagai kerajaan maritim sebagai pusat Mandala raksasa yang membentang dari Sumatera hingga Papua Nugini. Begitu juga kebesaran kerajaan Pajajaran di Jawa Barat yang terkenal kisah heroiknya demi menjaga martabat dan kedaulatan daerahnya.

Koleksi-koleksi zaman perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan pun terdapat di museum. Di sana dapat tergambar keberanian, kegigihan, kerelaan dan semangat pantang menyerah yang dikobarkan pejuang dapat menjadi motivasi dan daya juang bagi kita dalam mengisi kemerdekaan yang telah ditebus dengan tetesan darah dan nyawa.

Bila kita cermati, biaya kunjungan ke museum tidaklah besar, bahkan beberapa museum tidak mengenakan tiket masuk. Untuk mengisi pekan-pekan menjelang liburan akhir tahun pelajaran, guru bisa memberikan pilihan alternatif wisata museum. Atau kalau pun tidak, orang tua bisa mengajak anaknya menikmati wisata sejarah pada saat liburan nanti. Kota Bandung termasuk sangat beruntung memiliki banyak museum. Masing-masing museum tsb memiliki keunikan (khas) tersendiri. Beberapa di antaranya: Museum Mandala Wangsit Siliwangi, Museum Sri Baduga, Museum Geologi, Museum Pos dan Giro, Museum KAA, dan lain-lain.

Kini museum tidak cuma memamerkan koleksi-koleksi tersimpan rapi dalam kaca. Pengelola museum cukup inovatif menyediakan sarana dan pra-sarana sehingga informasi bisa didapat secara maksimal. (**)


Guru kelas, SDN Taruna karya 04, Kecamatan Cibiru Bandung

KONTRIBUSI SISWA TERHADAP PRESTASI OLAHRAGA, Pikiran Rakyat, Kamis, 22 Februari 2007


Oleh: Ajeng Kania

Kondisi prestasi olahraga kita akhir-akhir ini menurun. Hasil Asian Games XV/Doha baru-baru ini menunjukkan, Indonesia hanya menduduki posisi ke-22 di bawah 5 negara Asia Tenggara lainnya.

Sinyal kegagalan tersebut terlihat di dua SEA Games terakhir, setelah begitu perkasa selama 20 tahun di kawasan ini melorot ke posisi tiga kemudian terperosok ke urutan lima. Masyarakat pun rindu kehadiran kembali Piala Thomas, Uber dan Sudirman ke tanah air. Dibenak kita muncul pertanyaan, kenapa dengan penduduk 220 juta jiwa, kita begitu kesulitan mencari atlet berprestasi?

Siswa-siswi di tiap jenjang sekolah, hakikatnya adalah “bahan baku” calon atlet. Dengan seleksi dan sistem pembinaan terarah, bukan tidak mustahil lahir atlet-atlet berprestasi skala nasional atau regional bahkan dunia dari lingkungan anak didik kita.

Pada prinsipnya pengembangan olahraga di masyarakat (termasuk sekolah) berpijak tiga orientasi, yaitu olahraga sebagai rekreasi; olahraga sebagai kesehatan; dan olahraga untuk prestasi. Sebagai rekreasi dan kesehatan, kita masih ingat semboyan di era tahun 1980-an “memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat” mampu menggerakan masyarakat dengan aktivitas olahraga massal, murah dan meriah seperti: lari pagi (jogging), gerak jalan atau senam pagi. Krisis moneter yang mendera bangsa kita membuat slogan tsb meredup. Kesulitan ekonomi itu memaksa masyarakat kembali berjuang sekadar bertahan hidup dan melupakan olahraga. Sementara, kondisi obyektif pendidikan olahraga di sekolah sangat bergantung pada kebijakan sekolahnya dan banyak yang menganggap mata-pelajaran olahraga tidak penting.

Pelajaran olahraga di sekolah banyak menemui hambatan, seperti sarana dan pra-sarana beru-pa peralatan dan lapangan kurang memadai; lemahnya dukungan pihak sekolah; perubahan sikap dan gaya hidup glamour siswa menjadikan pelajaran olahraga sekadar formalitas belaka. Sebagai pembelajaran kurikuler di sekolah, target pembelajaran sebatas memenuhi tuntutan kurikulum semata sehingga kurang bisa diharapkan dari sisi perolehan prestasi.

Padahal pelajaran olahraga cukup penting sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan dikaitkan dengan konsep kecerdasan yang tidak lagi menitikberatkan pada kecerdasan rasional, misalnya konsep multiple-intelegence. Dalam konsep ini dikenal adanya aspek kecerdasan kinestik berkenaan dengan aktivitas olahraga. Pemahaman teori dan dasar-dasar keolahragaan cukup relevan dalam menjaga kebugaran dan kesehatan jasmani.

Untuk mencapai keunggulan dan prestasi maksimal, penggalian potensi dan minat siswa di sekolah-sekolah bisa menjadi alternatif rekrutmen atlet. Seleksi siswa bisa dilakukan lewat penjaringan ke tiap-tiap satuan pendidikan atau mengacu hasil prestasi dalam kejuaraan lokal seperti Porseni, Lomba Olahraga Tingkat SD, Pekan Olahraga Antar-Kelas, dsb.

Banyak siswa yang mempunyai potensi dan bakat luar biasa secara alamiah belum tersentuh pembinaan secara optimal. Keterbatasan akses informasi, biaya, dan perhatian sehingga potensi tersebut terkikis begitu saja oleh pertambahan usia Selama ini, siswa memanfaatkan unit ekstrakurikuler (eskul) sekolah secara terbatas tanpa tuntutan target tertentu, dan hanya sebagian kecil keluarga memprivatkan anaknya pada klub. Itu pun dari kalangan mampu secara ekonomi.

Padahal olahraga dapat memupuk sportivitas dan solidaritas dalam masyarakat. Olahraga mampu menyihir masyarakat melupakan sejenak segala pernik masalah atau konflik melanda dirinya. Olahraga dapat menyatukan dan menjadi simbol kebanggaan masyarakat. Untuk menuai prestasi olahraga tidak bisa secara instant, melainkan lewat kerja keras, disiplin, dan dukungan memadai berupa ketersediaan dana dan prasarana juga apresiasi masyarakat. Dengan pembinaan mulai level terendah, adanya persaingan dan pembinaan yang sehat, serta terciptanya iklim kondusif, kita bakal memiliki suplai atlet berprestasi secara berkesinambungan untuk mengembalikan reputasi dan martabat bangsa kita dipentas regional maupun internasional. (**)

Penulis, guru kelas dan mantan guru Penjaskes SDN Taruna Karya 4 Kec. Cibiru Kota Bandung, mantan atlet Tajimalela

MERINDUKAN TAYANGAN EDUKATIF BAGI SISWA, Pikiran Rakyat, Kamis (Kliwon), 22 Februari 2007

Oleh: Ajeng Kania

Sinetron ”Kiamat Sudah Dekat” (KSD) yang dibintangi Deddy Mizwar (sebagai Haji Romli) dan kawan-kawan seakan menjadi penawar kerinduan insan pendidikan di tengah minimnya tayangan sinetron televisi yang membawa pesan moral bagi pemirsanya.


Layar kaca, bagaimana pun, harus membawa pesan moral, sarat nilai edukatif, bersifat konstruktif, dan memberi nilai keteladanan bagi para pemirsa yang didalamnya adalah para siswa. KSD membuktikan, selain menampilkan hiburan juga penuh keteladanan sekaligus memberi pesan perlunya perjuangan meraih cita-cita.

Media televisi mempunyai fungsi sebagai sumber informasi, ilmu pengetahuan, dan sarana hiburan. melihat program televisi sekarang ini, terdapat beberapa tayangan yang membuat hati kita jadi miris. Bagi kalangan siswa, alih-alih mengambil nilai positif dan edukatif, mereka malah ikut hanyut terbawa arus mengikuti gaya hidup tokoh-tokoh sinetron yang cenderung mengekspos kekerasan, sensualitas dan sikap serba materi.

Tak dapat disangkal, tayangan kriminal membuat perut mual dengan suguhan gambar sosok mayat bersimbah darah, mutilasi, dendam, dan perampokan, menjadi santapan sehari-hari. Tren tema sinetron sekarang banyak berkutat pada eksploitasi bentuk kemewahan, perselingkuhan, perebutan harta warisan, dan menjual kehidupan dunia mimpi dalam memanjakan pemirsanya, namun memprihatinkan secara substansi dan nilai. Eksploitasi fenomena gaib dan takhayul pun kian marak, dikhawatirkan mengikis akidah. Semua mengharuskan siswa selektif memilih tayangan televisi.

Keprihatinan lainnya, tema-tema sinetron mengambil latar suasana di sekolah dengan peran siswa berseragam SMP/SMA atau peran guru, aspek yang ditonjolkan bukan unsur-unsur pendidikan seperti: suasana akademik, perjuangan meraih prestasi, motivasi belajar, atau figur keteladanan. Melainkan justru perilaku dan gaya kehidupan siswa ala selebriti yang dominan soal ngerumpi di kelas, ngegosip di kantin, hura-hura, atau pesta pora. Begitu pun adegan kurang santun, seperti sikap siswa menertawakan guru, tidak hormat, belajar penuh canda, seragam siswi yang ketat, rok mini, merokok atau pesta di ruang kelas, dapat memberi pengaruh negatif terhadap siswa-siswi selaku pemirsa di rumah.

Media Televisi secara efektif dapat memengaruhi pemirsanya hingga pelosok daerah. Begitu hebat pengaruhnya, barang-barang baru saja dipromosikan (launching) lewat televisi, selang berapa hari sudah dikonsumsi remaja di pelosok daerah sekali pun. Begitu juga tata susila, perilaku, model fashion, aksesori, dan gaya hidup yang diperankan tokoh secara cepat diadopsi kalangan siswa. Celakanya, tanpa informasi yang benar, siswa-siswi menjadi korban negatif tayangan itu, seperti pergaulan bebas, aborsi, hura-hura, dan pecandu narkoba.

Tayangan televisi mampu menembus batas-batas wilayah tanpa membedakan status, golongan dan usia. Sungguh ironis, murid-murid maupun anak pra-sekolah menjadi bagian pemirsa televisi dibiarkan melahap acara-acara bukan peruntukkannya. Padahal mereka terlalu lugu untuk membedakan baik-buruknya acara tersebut. Lebih parah lagi, sikap orang tua yang serba praktis, memercayakan sepenuhnya kepada acara televisi sebagai ”ibu asuh” agar anak tidak bermain jauh.

Sikap masa bodoh orang tua membahayakan anak, karena tayangan televisi sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak kelak. tentunya, perhatian dan sikap bijaksana orang tua dibutuhkan dalam mendampingi sekaligus menjelaskan perihal gambar-gambar di televisi yang belum dapat dicerna daya nalar anak.

Mata acara program televisi hendaknya tak sekadar mengerjar rating belaka. Pengelola stasiun televisi harus mempunyai tanggung jawab moral terhadap ekses-ekses negatif yang ditimbulkan akibat penayangan acara itu. Tayangan berkualitas rendah dibungkus pemanis pornografi dan derasnya pengaruh buruk budaya Barat dapat menggerus norma, kepribadian, dan idealisme kalangan siswa. Kemerosotan akhlak dan moral generasi penerus dapat menjadi potret buram wajah bangsa untuk menghancurkan identitas dan budaya bangsa. ***

Penulis,
guru kelas SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru, Bandung
v

MENCETAK LULUSAN BERJIWA ”ENTREPRENEUR”, Pikiran Rakyat, Rabu, 21 Nopember 2007

oleh : Ajeng Kania

Orientasi siswa dan mahasiswa kita setelah lulus berlomba-lomba untuk menjadi ”pegawai”. Secara budaya, status ”pegawai” apapun jabatan yang disandangnya cenderung lebih mendapat pengakuan masyarakat.

Tak heran, setiap kali ada penerimaan CPNS seperti sekarang ini selalu disambut antusias sarjana kita. Sementara, para pencari kerja rela berdesak-desakan dan antri membeli tiket di Bursa Tenaga Kerja sekadar mencari informasi lowongan kerja ditawarkan perusahaan swasta. Mereka berjuang sekuat tenaga, tak heran beberapa orang menempuh ”jalan pintas” demi memperoleh status ”pegawai”, padahal di antara mereka ada memiliki usaha tergolong berhasil.

Itu tak lain karena budaya priyayi masih begitu kental menempatkan sosok pegawai sebagai pekerjaan terpandang. Tak heran entah guru, teman lama, atau calon mertua pasti akan bertanya soal pekerjaan ”bekerja di mana?”.

Melihat fenomena ini, esais terkenal, Jakob Sumardjo dalam sebuah artikelnya menyebut bahwa Indonesia memang negara pegawai. Ia memberikan sebuah perbandingan, mereka yang membuka usaha sendiri di rumah, meskipun sukses besar, cenderung menganggap dirinya ”tidak bekerja”. Untuk menutupi harga dirinya, ketika ditanya pekerjaan, umumnya berlindung dibalik profesi ”wiraswasta”, sebuah eufimisme untuk menutup nasib ”malang”-nya karena bukan seorang pegawai.

Padahal, usaha kecil yang ditopang jiwa entrepreneur (wirausaha) terbukti cukup tangguh menyangga ekonomi negeri ini dari kehancuran di saat krisis moneter. Mengingat fungsi strategisnya bagi ketahanan ekonomi nasional, upaya menanamkan jiwa entrepreneur sejak dini sangatlah penting untuk menciptakan generasi mandiri yang tangguh. Mentalitas entrepreneur menurut Bambang Suharno dalam buku best seller-nya ”Langkah Jitu Memulai Bisnis dari Nol” memiliki dua ciri, yaitu :
(a) jika mengeluarkan orang, sebagian uang yang keluar bisa kembali. Berbeda dengan orang bermental karyawan, ia akan membelanjakan uangnya untuk sesuatu yang tidak kembali;
(b) jika mengerjakan sesuatu, segera mencari penggantinya.

Artinya, seorang entrepeneur tak akan asyik berkutat pada pekerjaan teknis, ia segera mendelegasikan kepada orang kepercayaannya dan ia segera mencari peluang usaha baru.

Sayangnya, budaya pendidikan di Indonesia kurang mendukung pengembangan jiwa kewirausahaan sehingga menghambat pelajar untuk mengembangkan daya kreativitasnya. Kasubdindikmen Dikdik Jabar, Syarif Hidayat, Drs. M.Pd, (PR, 6/11) mengakui bahwa pengenalan keterampilan seperti entrepreneurship sangat diperlukan, namun perlu peran dari sekolahnya sendiri, karena kurikulum tidak melengkapi sekolah untuk memberikan pengenalan mengenai kewirausahaan atau kompetensi lain di luar pelajaran resmi.

Pihak sekolah diharapkan dapat menjembatani minat wirausaha siswa dengan membuat komunitas atau menghidupkan koperasi sekolah sebagai sarana melatih jiwa wirausaha siswa. Sebuah cara efektif membangkitkan minat wirausaha siswa direncanakan untuk mengundang entrepreneur sukses berbagi (sharring) pengalaman atau sebaliknya, siswa melakukan kunjungan ke lokasi industri rumah tangga yang berhasil. Pihak sekolah bisa juga memfasilitasi seperti menggelar acara bazar dalam rangka menyambut hari tertentu. Tujuannya memberi ruang untuk produk kreatif siswa seperti: kue-kue, makanan, kerajinan tangan, hasta-karya, dsb sekaligus tolok-ukur respons konsumen.

Pendidikan jiwa wirausaha di sekolah tidak selalu identik dengan berbisnis, namun lebih ditekankan dapat membentuk sikap seperti: pribadi mandiri, memiliki kecakapan hidup (life skill) dan melatih kepemimpinan (leadership) siswa di masa depan. Mandiri, siswa mendayagunakan potensi diri dan kreativitasnya untuk ”menghasilkan” minimal mencukupi kebutuhan dirinya sendiri. Siswa pun cakap mengelola keuangan berkaitan hal-hal produktif, termasuk menjadi konsumen yang ”pintar” tidak gampang terbujuk rayu iklan-iklan. Satu hal lagi mencetak seorang entrepreneur, bukan saja pemilik sekaligus direktur (pemimpin usaha).

Dengan jiwa entrepreneur, seorang sarjana tak harus selalu menunggu pengumuman CPNS atau lowongan perusahaan untuk memulai kiprahnya. Seorang entrepreneur akan memanfaatkan otak kreatifnya sebagai modal utama untuk memulai usaha. Memulai bisnis tak harus dengan modal besar. Seorang entrepreneur akan mengubah paradigma ”lulus mencari kerja” menjadi ”lulus mencipta kerja”.

Penulis, guru SDN Taruna Karya 4 Kota Bandung

MENCERMATI JAJANAN ANAK DI SEKOLAH, Pikiran Rakyat, Senin, 18 Januari 2010


Oleh: Ajeng Kania

Lima puluh murid SDN Cibeureum Hilir 1 Kota Sukabumi keracunan. Mereka diduga keracunan cilok saat jam istirahat berlangsung. Para murid mengeluh pusing dan mual dan disertai rasa mual hebat.” (“PR”, 13/1/2010)

Sudah menjadi hal lumrah, bila orang tua selalu memberi uang jajan kepada anaknya setiap hari. Jajanan di sekolah, semestinya dapat mengganjal rasa lapar dan haus selama di sekolah. Dengan asupan nutrisi, murid pun mendapat tambahan energi sehingga berkonsentrasi dalam mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Karena fungsi tersebut, asupan makanan berperan penting terhadap pertumbuhan dan prestasi belajar anak sekolah. Akan tetapi, keamanan jajanan tersebut baik dari segi mikrobiologis maupun kimiawi justru dipertanyakan sehingga ditakutkan bakal menuai masalah di kemudian hari. Seperti dilansir situs gizi.net, penelitian dilakukan di Jakarta baru-baru ini mengungkapkan bahwa jenis jajanan yang sering dikonsumsi oleh anak-anak sekolah adalah lontong, otak-otak, tahu goreng, mie bakso dengan saus, ketan uli, es sirop, dan cilok.

Berdasarkan uji lab, pada otak-otak dan bakso ditemukan borax, tahu goreng dan mie kuning basah ditemukan formalin, saus dan es sirop merah positif mengandung rhodamin B. Dampak pendeknya terasa pusing dan mual. Bahan-bahan ini bila terakumulasi pada tubuh dan bersifat karsinogenik memicu bahaya laten kanker dan tumor pada organ tubuh manusia. Efek karsinogenik juga ditimbulkan dari penggunaan minyak goreang bekas (jelantah) dipakai berkali-kali. Pendeknya, bila hal ini terus dibiarkan, generasi mendatang memanggul risiko persoalan kesehatan serius di masa depan.

Peningkatan perhatian kesehatan anak usia sekolah ini merupakan faktor penting dalam menciptakan peserta didik yang sehat, cerdas dan unggul. Untuk mengurangi dampak buruk, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah, guru, orang tua, murid, serta pedagang. Pihak sekolah diharapkan dapat menggiatkan kembali unit berbasis kesehatan, semisal UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), PMR atau dokter kecil. Kedua, pemberdayaan kantin sekolah sebagai parameter sekaligus pembelajaran dalam menyajikan jajanan bersih, sehat, dan bergizi. Dengan demikian, di kantin sekolah tidak dijumpai rokok, makanan kadaluarsa atau beralkohol, juga mengandung bahan berbahaya.

Ketiga, jika memungkinkan, pihak sekolah berkoordinasi dengan orang tua mengupayakan pemberian makanan (snack) selama di sekolah. Di bawah konsultasi dokter sekolah, langkah ini lebih menjamin aspek keamanan dan efesien dibanding anak jajan sembarangan di luar sekolah.

Di kelas, guru dapat memberikan penanaman nilai-nilai tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kehidupan sehari-hari melalui pelajaran yang diampu. Nilai-nilai itu mencakup memelihara kebersihan diri dan lingkungan, pola makan sehat, risiko bahaya jajan sembarangan, dan sebagainya. Siswa diharapkan mendapat pemahaman tentang makanan sehat, meliputi aspek higienis dan komposisi gizi. Siswa juga mampu membedakan batas kadaluarsa produk makanan.

Adapun orang tua sebaiknya membiasakan anak sarapan pagi sebelum ke sekolah. Sarapan pagi bagi anak usia sekolah sangat penting, karena waktu sekolah banyak aktivitas memerlukan stamina dan konsentrasi penuh, tentu membutuhkan energi dan kalori yang cukup. Anak-anak dapat pula dibekali makanan dari rumah. Ini lebih baik daripada selalu was was mengkhawatirkan tentang jajanan apa dikonsumsi anaknya hari itu. Dari jajanan ini pula, orang tua dapat mengajarkan anaknya berhemat, yakni menabung dari sebagian uang jajannya.

Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) seyogianya secara berkala melakukan sosialisasi, monitoring dan melakukan uji sampel terhadap jajanan anak di sekolah. Sosialisasi ini dapat memberi sejumlah informasi bagi para pedagang tentang bahan pangan yang higienis, pemrosesan hingga pengemasan, termasuk pengetahuan tentang bahan kimia dilarang bagi pangan dan dampak pengunaannya serta sanksi hukumnya. (**)

Penulis, Guru SDN Cibiru 5 Kota Bandung

Rabu, 01 Juli 2009

Bijak Saat Menerima Buku Rapor, Pikiran Rakyat, 26 Juni 2009


Oleh Ajeng Kania

Buku rapor sebagai laporan prestasi belajar siswa tak lama lagi bakal dibagikan. Kisah inspiratif terkait buku rapor dapat ditimba dari sosok Agum Gumelar. "Angka rapor saya semua merah, kecuali nilai olah raga delapan," katanya mengenang saat duduk di bangku SD, seperti dikutip "Nuansa" (2003: 78).

Bagi saya kisah tsb amat inspiratif, bagaimana seorang Agum mampu mengevaluasi sekaligus memaknai di saat prestasi menurun dengan tidak patah semangat. Angka merah, kegagalan, bahkan kejadian pahit tinggal kelas sejatinya bukan akhir segalanya. Usaha dan kerja keraslah bakal berbuah kesuksesan. Melalui kecintaan dalam aktivitas olah raga dan mengelola bakatnya telah membawanya sukses.

Selain sukses di militer, beliau pun pernah menjadi menteri dan menempati sejumlah pucuk pemimpin berkaitan minatnya seperti Ketua Umum PSSI dan KONI Pusat.

Akan tetapi, masih banyak masyarakat yang terbelenggu dalam stigma bahwa siswa yang nilai akademik terutama nilai matematika atau sainsnya rendah dianggap bodoh dan pertanda bakal gagal. Predikat tersebut dapat mematikan cita-cita tinggi anak dan meredupkan talenta yang dimilikinya.

Dengan stigma tersebut akan merugikan masa depan anak dan menjadi penyumbang tingginya angka putus sekolah (drop out). Padahal, anak putus sekolah mudah terseret ke dalam pergaulan buruk, yang akan menambah masalah sosial.

Menurut Ahwan S. Kalpen (1997), penurunan prestasi belajar siswa pada hakikatnya disebabkan oleh aspek psikologis dan fisiologis.

Dari sudut psikologis, selain IQ, juga harus diperhatikan kondisi keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan, dan lingkungan sekolah. Sementara aspek fisiologis berkaitan erat dengan faktor kesehatan anak, gizi, gangguan penglihatan atau pendengaran.

Bila dicermati, sikap ambisius orang tua meletakkan target tinggi seperti harus selalu juara kelas dapat berdampak anak frustrasi. Penjejalan kepada anak dengan berbagai les membuat kontraproduktif sehingga anak merasa tertekan dan tersiksa. Kalaupun berprestasi baik, tetapi perkembangan psikososial terganggu, karena anak kehilangan hak sesuai fitrahnya untuk bermain, bergaul, dan ceria.

Lingkungan keluarga tidak harmonis, kurang terbuka, dan terlalu sibuk pun menyumbang kegagalan anak berprestasi. Begitu pun lingkungan sekolah, seperti guru kejam dan galak, metode pembelajaran menjemukan dan permusuhan dengan teman dapat menjadi akar masalah prestasinya jeblok.

Dalam menerima buku rapor, orang tua hendaknya tidak terpaku pada perolehan skor angka mata pelajaran, tetapi perlu diperhatikan pula kolom catatan kepribadian anak meliputi sikap, kerajinan, angka kehadiran, kebersihan, dan kerapihan. Di samping itu, buku rapor pun dilengkapi catatan pengembangan diri siswa tentang perkembangan bakat dan minat siswa. Orang tua harus cermat melihat kolom saran yang dicatatkan guru sebagai masukan bagi anak untuk berprestasi lebih baik.

Kolom pengembangan diri sangat penting bagi pengembangan bakat dan talenta siswa. Para siswa dapat memanfaatkan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah untuk berlatih, mengasah, dan mengaktualisasikan bakat yang dimilikinya sehingga berkembang secara optimal. Bukan hal mustahil, bakat dan talenta yang dimiliki merupakan investasi untuk meraih sukses melebihi seorang juara kelas sekalipun.

Kalau kita perhatikan, Chris John (petinju), Ananda Mikola (pembalap), dan Zaenal Arif (pesepak bola) adalah contoh orang-orang yang memanfaatkan bakatnya pada tempat pas sehingga sukses dan eksis.

Itulah sebabnya mengapa setiap pembagian rapor, orang tua/wali siswa selalu diundang. Orang tua seyogianya merespons positif momen berharga ini untuk menjalin komunikasi positif dengan guru menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan kondisi anaknya di sekolah. Manfaat kehadiran orang tua di sekolah dapat membangkitkan moril sekaligus wujud penghargaan terhadap siswa yang berbeda ketika rapor diambil hanya oleh sopir atau pembantu.

Buku rapor adalah laporan hasil prestasi siswa setahun di sekolah. Ketika anak gagal meraih prestasi memuaskan, hendaknya disikapi dengan empati, bukan cacian atau makian. Sebaliknya, berikan apresiasi setiap anak menunjukkan prestasi. Bijaklah! ***

Penulis, guru SDN Taruna Karya 4 Kec. Cibiru, Bandung.

Minggu, 03 Mei 2009

Lagu Dewasa di Mata Anak-anak, Pikiran Rakyat, 1 Mei 2009

oleh: Ajeng Kania


Murid-murid TK/SD kini lebih hafal dengan lagu-lagu Peterpan, Ungu atau Ratu dibandingkan lagu anak-anak seusianya atau lagu wajib nasional.


Fenomena ini menuntut orang tua dan guru bersikap bijak dan selektif, karena banyak lirik lagu dewasa tidak cocok bagi anak-anak.

Sejatinya, lagu dan musik memiliki manfaat sangat besar bagi perkembangan intelegensia anak-anak. Dalam buku "Revolusi Cara Belajar II", Jeannete Vos mengatakan bahwa irama lagu dan musik dapat mengurangi stress, meredakan ketegangan, meningkatkan energi, dan memperbesar daya ingat sehingga dengan musik orang lebih cerdas. Rangsangan ritme dan alunan sebuah lagu atau musik yang memiliki keharmonian nada akan menunjang kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosi (SQ) dan kecerdasan spiritual (SQ).

Melalui nada dan lirik lagu seusianya, imajinasi murid-murid diajak mengeksplorasi lingkungan terdekatnya. Tema-tema seputar: peran dan jasa orang tua dan guru, keindahan alam sekitar dan keagungan Sang Pencipta bisa menjadi inspirasi buat lagu anak-anak juga mengandung nilai-nilai positif bagi pembentukan karakter anak. Begitu juga lagu wajib nasional diajarkan agar siswa memiliki jiwa patriotisme dan nasionalisme sehingga memiliki kebanggaan terhadap tanah airnya.

Akan tetapi, ternyata lagu-lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak kini semakin tersisih digantikan oleh lagu-lagu bertemakan kehidupan orang dewasa ditandai maraknya bermunculan vokalis berbakat dan grup band di kota-kota besar. Lagu dewasa umumnya bertemakan seputar percintaan, perselingkuhan atau drama picisan. Tak jarang terselip lirik berbau mesum dan kurang santun sehingga tidak cocok menjadi konsumsi anak-anak. Perhatikan saja, judul lagu Kekasih Gelapku (ungu), Teman Tapi Mesra, Buaya Darat (Ratu), secara frasa saja sudah merefleksikan gaya kehidupan modern tidak dibenarkan secara etika maupun agama. Bahaya lebih besar bila gaya hidup seperti itu menginspirasi kisah hidup anak-anak kelak. Lagu dewasa secara tidak disadari telah menggiring anak-anak untuk berpikir ala orang dewasa.

Mengapa anak-anak menyenangi lagu dewasa? Menurut psikologi anak dan remaja, Alva Handayani ("PR", 20/8) semua orang tidak terlepas dari meniru sebagai proses belajar. Pada anak-anak terutama usia prasekolah, meniru dan mengeksplorasi lingkungan menjadi orientasi utama proses belajarnya. Mereka cenderung meniru apa yang dilihat, diraba atau didengarnya.

Pengaruh negatif lagu dewasa pun dapat dicermati dari gerak tubuh vokalis maupun penari latar. Ada yang kalem dan tenang, ada yang berjingkrak-jingkak penuh enerjik bahkan ada dikenal dengan "goyang ngebor" atau "patah-patah". Perilaku nyleneh (tampil beda) biasanya cepat ditiru oleh masyarakat, termasuk anak-anak.

Satu lagi yang menarik dikaji adalah program pemilihan bintang cilik yang marak dilakukan stasiun televisi. Program ini amat kondusif dijadikan ruang beraktualisasi bagi para murid untuk uji mental, uji kemampuan, memupuk rasa percaya diri, menumbuhan motivasi atau paling tidak mencoba mengajak anak bersentuhan dengan publik. Namun bila tujuannya merupakan arena eksploitasi semata, sekedar mengejar rating demi kepentingan bisnis dengan mengorbankan hak anak untuk berkembang dan berprestasi, hal itu harus menjadi koreksi.

Kasus-kasus di atas, harus menjadi perhatian orang tua, guru maupun pihak yang pro perlindungan anak untuk tidak mudah mengikutsertakan anak dalam perlombaan atau audisi tanpa kriteria, peruntukan, dan manfaat jelas. (**)

Penulis,
Guru SDN Taruna Karya 4
Kec. Cibiru Kota Bandung

Jumat, 20 Maret 2009

MEMPERJUANGKAN MARTABAT GURU MELALUI ORGANISASI PROFESI, Pikiran Rakyat, 22 Nopember 2008

oleh: Ajeng Kania

Mutu pendidikan, kualitas dan kesejahteraan guru tidak pernah berubah jika masyarakat dan guru itu sendiri tidak memperjuangkannya.
(Dr. Sulistiyo, M.Pd – Ketua Umum PB-PGRI)

Pekerjaan guru sebelum Perang Dunia II adalah pekerjaan tertinggi untuk orang Indonesia, mulia, pandai, kaya, dan terhormat. Dengan gajinya, guru saat itu mampu memiliki pembantu, rumah bagus, dan bisa bepergian di musim liburan. Satu kisah kesaksian seorang guru baheula di Semarang saat diwawancarai seorang antrolopog, Walter Williams (1988) dalam buku Pendidikan Manusia Indonesia, (2004: 169).


Konsentrasi pembangunan lebih bertumpu kepada bidang ekonomi semata, membuat kita lengah memprioritaskan bidang pendidikan, terutama membangun aspek manusia. Dalam konteks ini, penghargaan masyarakat terhadap seseorang pun berubah. Mereka bergelimang materi cenderung dihormati dan dihargai. Pada kondisi ini, predikat guru tak ubahnya layaknya karyawan pabrik atau orang bayaran dibayar karena mengajar siswa. Kecilnya penghasilan guru dapat dibandingkan, perhitungan satu jam ekuivalen dengan empat kali (jam) pertemuan (satu bulan). Citra guru sedemikian melorot, menjadikan profesi guru tidak menarik minat anak-anak muda.

Mengapa profesi guru tertinggal dibanding profesi lain? Padahal jumlah guru di Indonesia cukup besar mencapai sekitar 2,7 juta. Akan tetapi, jumlah besar tidak serta-merta memiliki kekuatan-tawar menguntungkan dalam memperjuangkan profesi, kesejahteraan, perlindungan hukum dan karier guru. Salah satu faktor penyebabnya adalah militansi guru dalam mengkritisi dan memperjuangkan nasibnya masih lemah. Kesadaran berserikat (berorganisasi) rendah berdampak profesi ini mudah dipengaruhi, ditekan, atau dijadikan obyek kepentingan tertentu.

Hal ini tentu berbeda bila guru bersatu padu, solid, dan memiliki solidaritas tinggi sehingga memiliki organisasi profesi yang kuat, berwibawa dan profesional. Organisasi kuat dapat dijadikan sebagai pressure-power (kekuatan-menekan), thinking-power (kekuatan- pemikiran) dan control-power (kekuatan-pengendalian) sehingga memiliki posisi tawar (bargaining-position) diperhitungkan. Sesuai UU Guru dan Dosen (UUGD) kehadiran organisasi profesi mutlak diperlukan sesuai dengan amanat pasal 41 (3). Organisasi ini dibutuhkan guru untuk memajukan profesi, meningkatkan kompetensi, karier, wawasan kependidikan, perlindungan profesi, kesejahteraan, dan pengabdian kepada masyarakat. Bergabungnya guru dalam organisasi profesi memungkinkan guru memiliki kode etik guru sebagai standar perilaku ideal untuk memberi perlindungan dalam mewujudkan profesionalitas dan bekerja dalam suasana aman dan kondusif.

Meskipun sukses membidani kelahiran UUGD, PGRI sebagai organisasi guru terbesar dan tertua di Indonesia tak luput dari ragam tantangan. Jalan mewujudkan guru profesional, sejahtera dan bermartabat baru menginjak tahap awal. Problematika akibat minimnya penghasilan guru selama bertahun-tahun masih menjadi potret kelam kehidupan guru hingga kini. Banyak guru belum memiliki rumah tinggal layak; kesulitan memiliki sarana penunjang tugas, seperti: kendaraan, buku, komputer/laptop; tidak memiliki waktu luang untuk belajar, studi, dan pontang-panting ketika harus menyekolahkan anak-anaknya.

Kiranya perlu terobosan berbasis pelayanan untuk membebaskan sekaligus mendekatkan organisasi dengan anggota. Citra dan martabat guru tak bisa lepas dari performa kehidupan di tengah masyarakat. PGRI dapat mendorong dan memfasilitasi dengan cara membuat format dan skema tertentu dengan pihak pengembang sehingga memungkinkan guru-guru mudah mendapatkan hunian layak.Begitupun kerjasama dengan dealer dapat meringankan kepemilikan kendaraan minimal sepeda motor untuk menjangkau tempat tugas jauh dan terpencil. Sementara pendidikan anak-anak guru dijamin dengan pola asuransi semacam Askes.

Seluruh program dapat berjalan lancar jika PGRI didukung penuh guru-guru selaku anggotanya. Karena ”Sesungguhnya Allah tidak mengubah nasib suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS: 13: 11). Dengan menggunting simpul bermasalah, bukan saja membebaskan namun memberi secercah harapan bagi guru menikmati kehidupan lebih bermartabat.

Dirgahayu PGRI! Selamat Ulang Tahun Guru Indonesia! (**)

Penulis:
Guru SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru
Kota Bandung
Pengurus AGP-PGRI Propinsi Jawa Barat

“POIN PLUS” SISWA ANGGOTA PRAMUKA, Pikiran Rakyat, Bandung, 13 Oktober 2006

Oleh : Ajeng Kania

Bila siswa yang hanya aktif belajar sehari-hari di sekolah, kita beri nilai dengan angka 1, maka nilai siswa yang mengikuti kegiatan Pramuka adalah 1+ (baca: satu plus). Poin plus ini merupakan nilai tambah yang didapat dalam kegiatan kepramukaan yang berguna kelak, yang sebagian tidak didapat dalam materi di kelas.





Karena kegiatan kepramukaan merupakan kegiatan pendidikan luar sekolah dan luar keluarga, siswa berlatih membagi waktu antara kegiatan sekolah, acara keluarga, dan kegiatan Pramuka yang biasanya diadakan di akhir pekan. Siswa belajar menghargai waktu dengan membuat jadwal (schedule) kegiatan, untuk mengatur waktu sehingga efektif tidak tumpang tindih.

Secara tak disadari, anggota pramuka memiliki tambahan poin yaitu belajar mengelola kelompoknya (berorganisasi) dengan membentuk pimpinan regu, petugas piket (korve), dan anggotanya. Komunikasi, interaksi dan kerjasama intern dan ekstern kelompok akan melahirkan kebersamaan (jiwa korsa) dan motivasi untuk menyelesaikan tugas secara bersama. Dengan pembagian tugas ini akan melatih bakat kepemimpinan, kearifan, dan toleransi siswa. Dari berbagai ujian kecakapan, tantangan dan tugas-tugas yang diberikan, akan mengembangkan kematangan emosi siswa tersebut dalam mengambil setiap keputusan dengan penuh pertimbangan dan pengkajian.

Wawasan dan pergaulan anggota pramuka sangatlah luas. Kegiatan pramuka tidak cuma lingkup tingkat pangkalan atau gugus depan, melainkan bersifat universal, terdapat di tingkat nasional dan internasional. Juga anggotanya diikuti semua lapisan masyarakat tanpa membedakan golongan, ras, suku atau agama. Begitu pun, materi yang dipelajari mencakup materi umum ataupun spesifik digeluti ekstra-kurikuler (eskul) lain, seperti baris berbaris (eskul Paskibra), hiking, navigasi, dan mountenering (eskul Pencinta alam), P3K (eskul PMR), Kesakaan, Sejarah perjuangan bangsa, dan lain sebagainya. Inilah jelas membuat anggota Pramuka memiliki keistimewaan, berkaitan dengan penguasaan kemampuan dan kemahiran lapangan dalam bidang P3K, Evakuasi, PBB, Organisasi, Kesakaan, Survival-Navigasi Darat, Mountaineering, Tali-Temali (Simpul), juga Pengabdian Masyarakat berupa penyuluhan, bakti sosial atau penanggulangan korban bencana alam.

Kegiatan kepramukaan bukanlah semata-mata acara hura-hura belaka, tapi mempunyai tujuan dan manfaat tertentu. Kegiatan orientasi Kepramukaan di sekolah menengah misalnya, sebagai upaya memperkenalkan Pramuka lebih dekat sebagai salah satu wadah Kepemudaan yang keberadaannya diatur langsung oleh Kepres No. 238/1961 serta tertuang dalam GBHN. Begitu pun Jambore (pesta perkemahan pramuka tingkat penggalang) digelar periodik mempunyai manfaat strategis memperkuat ikatan persaudaraan dan persatuan di antara bangsa Indonesia sekaligus memupuk rasa cinta tanah air.

Penghargaan (apresiasi) yang diberikan masyarakat kepada anggota pramuka cukup tinggi. Masyarakat memandang anggota pramuka sebagai sosok pemberani, disiplin, cekatan, dan memiliki sifat-sifat kepedulian terhadap sesama hidup dan lingkungan. Diharapkan melalui kepramukaan dapat mencegah terjadinya pelbagai hal negatif menimpa kaum muda bangsa ini seperti: narkoba, kriminalitas, aborsi, dan lain-lain.

Poin plus lainnya, di mana pun berada, pramuka selalu periang (senang). Keceriaan usia masa siaga, penggalang dan penegak merepresentasikan sebuah semangat yang kuat dan motivasi dari anak-anak bangsa yang ‘siap mental’ untuk belajar sungguh-sungguh tanpa harus menanggung segala beban pikiran, dan tentunya tak terbelenggu dalam sebuah kesusahan lagi. Kenapa? Karena dalam bait salah satu The Song of Scout (lagu "wajib" pramuka) berbunyi: “Buat apa susah......susah itu tak ada gunanya ...” Begitu pun kata mutiara dari Bapak Kepanduan Dunia, “Tuhan menciptakan kita dalam dunia indah ini untuk hidup bergembira dan bahagia” (Lord Baden Powell). Semoga dengan poin plus tersebut, membentuk generasi yang berkepribadian, bertakwa, dan berbudi pekerti, cerdas, trampil, kuat dan sehat yang sangat dinantikan demi kemajuan bangsa ini.

Penulis, Guru SDN Taruna Karya 4,
Kec. Cibiru, - Kota Bandung 40615

Senin, 29 Desember 2008

Mencermati Perilaku Konsumtif Siswa, Pikiran Rakyat/ 5 Juni 200


Oleh AJENG KANIA

Perilaku konsumtif dewasa ini menjadi bagian kehidupan masyarakat. Pusat perbelanjaan yang tumbuh pesat menawarkan berbagai fasilitas lengkap, nyaman, dan serba praktis memanjakan masyarakat, termasuk para pelajar.

Menjumpai kalangan siswa di mal-mal sekarang ini bukanlah masalah sulit. Mal kini bukan sekadar tujuan orang berbelanja, namun sarat dengan arena fasilitas hiburan, bahkan menjadi sarana alternatif pengisi waktu luang di kalangan siswa untuk sekadar “cuci mata”, nongkrong dan ngerumpi. Suguhan yang ditawarkan di mal berupa mode fashion, aneka kuliner, aksesori, dan berbagai hiburan cukup menggoda hati setiap pengunjung.

Situasi dan kondisi tersebut membawa pengaruh konsumtif bagi siswa selaku pengunjung. Siswa cenderung digiring menghabiskan uang sakunya untuk melampiaskan keinginannya. Rasa gengsi dan demi penampilan di hadapan rekan-rekannya, membuat mereka terbiasa saling mentraktir, mengadakan pesta ulang tahun atau hura-hura di mal atau kafe. Agar tampak lebih gaul, gaya hidup siswa pun banyak mengadopsi model-model iklan atau pemain sinetron yang sedang tren, seperti model fashion, aksesori, telefon seluler, tato, tindik, dsb.

Perilaku konsumtif seperti itu sangat rentan bagi siswa terlibat hal-hal negatif. Secara logika, perilaku konsumtif tanpa didukung dana memadai (baca: pendapatan orang tua) membuat siswa berusaha berbagai cara untuk memenuhi hasratnya. Siswa tak segan masuk terlibat perbuatan kriminal seperti memalak, menipu dan mencuri. Sementara beberapa remaja putri, rela menyerahkan diri berbuat asusila demi materi untuk keperluan konsumtif dirinya. Gaya hidup seperti itu cukup dekat mengantarkan siswa kepada geng pecandu narkoba.

Bagi orang tua, perilaku konsumtif anaknya harus dibayar mahal. Orang tua tidak hanya berhadapan dengan keperluan sekolah, namun harus mengeluarkan biaya “ekstra” lainnya. Celakanya, orang tua yang secara ekonomi pas-pasan, dipaksa mementingkan pulsa handphone ketimbang membeli beras atau minyak tanah demi harga “pergaulan” sang anak.

Esais, Jakob Sumardjo, mengatakan gaya berpikir dan perilaku orang konsumtif ibarat benalu, suka mengisap daya hidup orang lain. Mereka cenderung bersifat boros, tidak bisa berhemat, dan kerjanya suka menghabiskan melulu. Hal tersebut bertolak belakang dengan karakter manusia produktif yang suka berhemat, pekerja keras, dan menghasilkan sesuatu.

Beberapa alternatif penulis coba ajukan untuk mereduksi perilaku konsumtif di kalangan siswa. Pertama, membiasakan budaya menabung (saving). Sejak usia TK/SD siswa dibiasakan rajin menabung dari sisa uang jajannya. Ingat, dalam hal ini bukan orang tua yang sengaja menabung atas nama anaknya. Tujuannya agar siswa dapat menghargai betapa susahnya berjuang mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sehingga ia berpikir ulang ketika akan menggunakan uang tersebut.

Kedua, menanamkan kemandirian sebagai upaya membentuk perilaku produktif. Hal tersebut bisa ditempuh dengan mengembangkan potensi aktual diri, minat, bakat, dan kreativitas. Keterampilan (skills) ini dapat menggugah siswa berpikir konstruktif dan produktif minimal berguna bgi dirinya sendiri.

Ketiga, mengisi waktu luang dengan kegiatan positif, seperti mengikut kegiatan ekstrakurikuler pramuka, olah raga, atau seni. Biasakan anak aktif membaca, dan kursus, sehingga siswa tak banyak bergaul dengan hal-hal negatif. Keempat, memberi pemahaman agar siswa bersifat selektif, sehingga bisa membedakan mana kebutuhan urgen atau biasa, barang bermanfaat atau mubazir, memilih teman baik-jelek, dsb. Kelima, adanya tata tertib yang tegas dan kontrol dari guru dan orang tua, sehingga siswa tidak sesuka hati dalam bertindak (tetap dalam norma).

Kerja keras orang produktif akan mengandalkan potensi diri, tahan uji, ulet, mampu berkreasi dan inovasi, serta mampu mencipta sesuatu untuk orang lain sehingga dapat tercipta generasi tangguh dan mandiri. Sebaliknya siswa berperilaku konsumtif akan menghasilkan generasi yang mempunyai tabiat selalu menuntut dan meminta, bermental ketergantungan, royal, malas bekerja, dan mudah sekali tersinggung. ***

Penulis, guru kelas SDN Taruna Karya 04 Kecamatan Cibiru Bandung, pengurus Asosiasi Guru Penulis (AGP) 2007-2008 Jawa Barat.

Sumber:

Jumat, 26 Desember 2008

Optimalisasi Program Penjaskes di Sekolah, Pikiran Rakyat, 31 Januari 2008



Oleh
AJENG KANIA

Orang baru menyadari bahwa kesehatan sangat penting manakala jatuh sakit. Oleh karena itu, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat harus menjadi tabiat sehari-hari.

Konsep kesehatan menurut WHO adalah konsep kesehatan secara paripurna meliputi urusan "sehat" secara fisik, tetapi juga secara sosial dan spiritual. Sementara itu, UU Kesehatan No. 23/1992 menyebutkan, kesehatan adalah kesejahteraan dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Dewasa ini, gejala hipokinetik (kurang gerak) yang menghantui anak-anak di Indonesia bakal berdampak buruk bagi kualitas kesehatan bangsa di masa depan. Gaya hidup (life style) yang cenderung menyita banyak waktu dan bersifat pasif menjadi preseden buruk terhadap kesehatan anak. Seperti, anak-anak makin asyik bermain game komputer atau PlayStation dan relatif statis diam berjam-jam. Begitupun fenomena remaja duduk mengutak-atik telefon seluler menjadi hal lumrah dijumpai. Padahal, anak mestinya pada usia muda seperti itu harus mengeksplorasi lingkungan sesuai fitrah mereka untuk bermain dan bergerak.

Peningkatan ekonomi pada keluarga membawa dampak lebih suka makanan berkalori dan lemak tinggi, tetapi rendah serat, seperti beberapa makanan fast food. Celakanya, makanan yang komposisi gizinya tidak seimbang dan berasimilasi dengan hipokinetik akan berefek negatif menimbulkan kegemukan (obesitas). Obesitas menurut Susi Purwati, dkk. (2001: 24) dalam buku Perencanaan Menu untuk Penderita Kegemukan bukan saja memengaruhi penampilan atau fisik seseorang, namun berpotensi memicu bahaya laten bagi kesehatan, yaitu munculnya beberapa penyakit degeneratif, seperti hipertensi, jantung koroner, kencing manis, kanker, artritis dan gout, hiperkoleterolemia dan hipertrigliseridemia, serta batu empedu.

Pelajaran pendidikan jasmani, olah raga dan kesehatan (penjaskes) di sekolah yang erat kaitannya dengan seputar kesehatan jasmani kalah populer dibanding bidang eksakta dan sosial yang lebih menjanjikan masa depan. Stigma negatif bidang penjaskes dipicu oleh kurang keseriusan siswa mengikuti pembelajaran, rendahnya mutu hasil pembelajaran, serta profil tenaga pengajar belum memadai.

Pada beberapa sekolah, terutama sekolah dasar, masih kesulitan mendapatkan guru penjaskes sesuai kualifikasi dan kompetensinya. Akibatnya, pembelajaran penjaskes seringkali dilaksanakan seadanya dan monoton, cukup dengan sebuah bola sepak atau bola voli untuk menghabiskan alokasi waktu yang disediakan.

Optimalisasi program penjaskes di sekolah harus dilakukan dengan sepenuh hati sehingga mata pelajaran ini dapat menjadi bidang studi "elite dan disegani". Pada teori kecerdasan berganda (multiple intelligence), Gadner menempatkan pelajaran penjaskes sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan kinestetik (aktivitas gerak tubuh). Mengenai sumbangan bidang penjaskes, Gabbar et. al dalam U.Z. Mikdar, 2001) menyebutkan bahwa kontribusi aktivitas jasmani dalam perkembangan anak, yakni domain kognitif (memberi kemampuan dan penguatan akademik) psikomotor (memengaruhi pertumbuhan biologis, kebugaran jasmani, skill, kesehatan, efisiensi gerak); dan efektif (pembentukan konsep diri, sosialisasi, sikap).

Sementara itu, paradigma promotif (kampanye kesehatan) dan preventif (pencegahan penyakit) harus lebih disosialkan karena memerlukan biaya cukup murah dan terbukti mujarab daripada paradigma kuratif (pengobatan) yang selama ini melekat pada bidang kesehatan dengan menyedot dana cukup besar.***


Penulis, mantan guru penjaskes, kini guru kelas di SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru Bandung.

Membangun Prestasi Melalui Kompetisi, Pikiran Rakyat , 23 Agustus 2006)


oleh: Ajeng Kania

Prestasi yang diraih para pelajar yang tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) di Singapura beberapa waktu lalu, merupakan berita sejuk di tengah pelbagai permasalahan yang mendera dunia pendidikan kita.

JONATHAN Pradana Mailoa dan kawan-kawan, mampu bersaing ketat dalam kompetisi tingkat dunia dan berhasil mengukir prestasi dengan menyabet gelar juara umum di atas negara-negara maju. Mereka juga meraih gelar The Absolute Winner (nilai tertinggi ujian teori dan eksperimen) atas nama Jonathan.

Prestasi yang dicapai tim TOFI 2006 itu, diharapkan dapat merangsang dan memotivasi pelajar kita di seluruh tanah air. Jonathan c.s. tidak serta-merta lolos begitu saja ke ajang bergengsi itu, melainkan lewat kompetisi (seleksi) ketat dan pembinaan terarah,hingga mampu menuai prestasi yang mengharumkan bangsa ini.

Prestasi tersebut sebenarnya bisa dirintis tak jauh dari anak didik kita. Peran guru
sebagai manajer pengajaran bisa menerapkan kegiatan belajar-mengajar sehari-hari yang bisa merangsang motivasi siswa. Pendekatan dan model pembelajaran bernuansa kompetisi, bisa kita bangun mulai dari hal-hal sepele hingga bersifat resmi.

Sebagai contoh, (1) Beberapa menit menjelang bubaran sekolah, guru bisa memberi
beberapa soal, siswa yang menjawab soal dengan benar cepat berhak keluar lebih awal;(2) Siswa yang lebih dulu memahami materi mendapat kehormatan bisa membantu guru menerangkan pada siswa lainnya; (3) Pujian atau penghargaan yang bisa memacu motivasi siswa, dan lain-lain. Guru bisa mengorganisasikan kelas dengan membuat kelompok belajar siswa (study-group). Kelompok ini sebagai sarana interaksi,diskusi, dan belajar bersama. Siswa yang kurang paham bisa bertanya dan mendiskusikan lebih dahulu sesama intern kelompoknya sebelum kepada guru. Sementara, guru bisa menerapkan situasi di mana siswa lebih bebas mengeluarkan ide, pendapat, dan pengetahuannya. Motivasi dan soliditas kelompok akan membawa siswa lebih dinamis dan proaktif.

Sistem peringkat (ranking) dalam buku rapor merupakan hasil kompetisi siswa selama satu semester. Siswa dapat mengetahui posisi prestasinya dibandingkan prestasi
siswa lainnya. Hal ini akan menciptakan kompetisi lebih ketat bagi siswa pada semester berikutnya. Mereka mempunyai dua pilihan, peringkatnya naik atau turun. Sekolah yang mempuyai kelas paralel bisa dicoba menerapkan sistem kelas unggulan ; yang diisi siswa peringkat atas dari kelas-kelas lainnya. Kelastersebut sengaja dibentuk dengan mengharapkan beberapa keuntungan, (1) ekstern, bersaing dengan sekolah lain meraih prestasi tertinggi (gengsi sekolah); juga (2) intern, kelas tersebut juga mempunyai gengsi di mata siswa-siswa sekolah tersebut. Korelasi positif dari sistem tersebut akan mampu memompa minat dan motivasi siswa di sekolah agar bisa direkrut ke kelas tersebut. Ada baiknya sistem promosi dan degradasi layaknya liga sepak bola barangkali bisa diterapkan untuk rekrutmen siswa kelas tersebut setiap semester.

Kesimpulannya, siswa kelas unggulan maupun normal dituntut belajar ekstra giat, tekun, dan ulet untuk meraih atau bertahan di kelas tersebut. Soalnya, terlempar dari kelas berarti dia harus belajar lebih giat lagi. Kompetisi bersifat resmi bisa dijumpai pada ajang lomba cerdas-cermat, pemilihan siswa teladan, lomba membaca, menulis, dan berhitung (calistung), pekan olah raga pelajar, dan lain-lain. Setiap lomba di tingkat lokal, daerah hingga tingkat nasional akan mampu melahirkan siswa-siswa berpotensi dan berbakat yang muncul dari berbagai pelosok negeri ini.

Mereka dituntut tak cuma sekadar pandai menghafal atau kekuatan otot, namun mempunyai daya nalar (analisis), stabilitas emosi, maupun mental yang prima sebagai pemenang kompetisi. Tentunya, kompetisi akan sukses sesuai harapan bila seleksi dilakukan secara adil, fair, dan objektif. Subjektivitas penilaian dan perilaku tidak terpuji hanya akan menodai lomba (event) khususnya, menghasilkan citra negatif dunia pendidikan pada umumnya. (**)

Penulis, guru SDN Taruna Karya 4 Cibiru Kota Bandung